Bitcoin: Fondasi Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Dunia
Saya beruntung. Saya terlahir di keluarga yang secara finansial menengah ke bawah. Bapak seorang pekerja keras. Dari satu lapak koran di pinggir jalan, dia berhasil menjadi agen koran yang lumayan besar di Tangerang. Cuma satu yang dia tidak punya: partner/mentor di bidang SDM & akuntansi – sebagaimana mayoritas pebisnis jalanan lainnya. Akhirnya, bisnispun bangkrut dan sekarang jadi supir GrabCar.
Ibu sendiri banyak bantu bisnis-bisnis bapak, namun tetap tidak bisa backup di topik administrasi & manajemen. Maklum, hobinya adalah menulis fiksi & mengajar, bukan operasional organisasi. Cerpen beliau tentang sulitnya hidup pengasong koran (orang yang berjualan koran sembari berjalan) pernah dimuat di koran nasional.
Singkat cerita, keluarga kami pernah kehilangan rumah dan terpaksa kembali mengontrak – karena tidak lagi sanggup bayar cicilannya. Ibu malah pernah masuk TV saat tempat usaha kami digusur pemkot Tangerang.
Saya beruntung, dua kaki saya menapak dua tanah yang berbeda. Saya bisa merasakan langsung (sedikit) penderitaan kaum menengah ke bawah – namun tetap mendapatkan pendidikan yang cukup baik & quality time dengan orang tua yang cukup banyak.
Saya jadi sedikit tahu pedihnya jadi orang miskin.
Saat mendengar tentang Bitcoin, saya meriset alasan-alasan kenapa dia diciptakan. Ternyata, Bitcoin bukanlah sekedar alat investasi, Bitcoin adalah kandidat solusi dari masalah maha besar terkait perekonomian & keadilan sosial dunia saat ini.
Tahu Kah Kamu, Kalau Kesenjangan Sosial Makin Melebar?
Pernah melihat meme Soeharto seperti ini?
Tadinya saya kira itu hanya lawakan. Sampai saya menemukan data-data ini. Data yang menyatakan bahwa memang sejak tahun 1970-an:
1. Pendapatan orang-orang menengah ke bawah stagnan/menurun, sementara pendapatan orang-orang kaya melonjak drastis
Setengah penduduk di dunia (+/- 39 miliar orang) harus berbagi 9,5% pemasukan di dunia. Sementara 1% orang terkaya di dunia (78 juta orang) menguasai 20% total di pemasukan dunia — bahkan bisa 25% jika tidak ada krisis ekonomi 2008! Sumber: World Inequality Lab
Grafik ini menunjukkan pendapatan keluarga di Amerika Serikat (US) dalam persentase, jika besar pendapatan di 1973 dianggap 100%-nya. Besaran pemasukan sudah disesuaikan dengan inflasi. Sumber: CBPP.org
Meski tumbuh beriringan sejak tahun 1940, terlihat di 2018, 20% keluarga termiskin (garis biru) hampir stagnan pemasukannya setelah 1973. Sementara 5% keluarga terkaya (garis merah) hampir 2 kali lipat-nya 1973.
2. Harta 1% orang terkaya terus melonjak drastis.
Grafik ini menunjukkan presentase penguasaan harta yang diakumulasi/disimpan oleh 1% & 0,5% orang terkaya di US.
Terlihat 30 tahun pasca Perang Dunia II (1945-1975) sekitar 30% dari total kekayaan di Amerika, dikuasai 1% orang terkaya. Di akhir 1970-an kesenjangan tersebut sedikit mengecil karena penguasaaan mereka tinggal 23%. Setelah itu kesenjangan ekonomi kembali drastis & konsisten meningkat. Di 2012 41% kekayaan kembali dikuasai 1% orang terkaya.
Hal apa yang terjadi di tahun 1970-an? Yang cukup besar karena bisa konsisten meningkatkan kesenjangan ekonomi selama berpuluh-puluh tahun sampai sekarang? Apakah hanya terjadi di US?
3. Ini tidak hanya terjadi di Amerika Serikat
Grafik ini menunjukkan hiperinflasi di beberapa negara di dunia. Indonesia tidak termasuk, tapi kita semua ingat hiperinflasi kita di 1997-1998.
Memang ada kaitankah antara krisis moneter kita (dan negara-negara lain di atas) dengan hal besar yang terjadi di tahun 1970-an ini?
Jawabannya, ada.
Sayangnya, tidak pernah diajarkan guru sejarah kita.
1944 & 1971: Pelajaran Sejarah Dunia Terpenting
Tidak ada perang, tapi kenapa harga kebutuhan pokok terus naik?
Semua bermula di penghujung Perang Dunia II tahun 1944. Perwakilan 44 negara-negara di dunia sepakat membatasi pencetakan mata uang mereka, dengan memberlakukan kunci nilai tukar. Dolar US dikunci ke emas (35 dolar per 28.3 gr emas). Uang negara-negara lain dikunci ke dolar US. Semua saling terkunci. Tidak mungkin ada judul berita “Rupiah Melemah Drastis Terhadap Dolar US” – dengan kata lain Krisis Moneter 98 di Indonesia juga tidak mungkin terjadi.
Singkatnya, bisa juga dibilang saat itu, “secara tidak langsung, seluruh uang di dunia dikunci ke emas – lewat dolar US”.
Di Perjanjian Bretton Wood ini, disepakati juga kalau dolar US jadi ‘mata uang dunia’ (ekspor-impor barang lintas-negara sepakat menggunakan dolar US). Negara-negara lain bisa menyimpan dolar US sebagai cadangan atas pencetakan uang negara mereka. Sementara US menyimpan emas – yang bisa ditukarkan siapapun dengan dolar US.
Kestabilan ini terbukti memudahkan perdagangan dunia, sehingga mempermudahkan perbaikan kerusakan akibat perang dunia. Dan seperti yang terlihat di grafik-grafik di atas, membawa pertumbuhan kesejahteraan yang adil bagi semua level ekonomi masyarakat.
Terlihat pendapatan 5% keluarga terkaya dan 20% keluarga termiskin tumbuh beriringan sampai tahun 1970-an.
Namun ‘surga’ ini tidak berlangsung lama.
Penyebab ‘dikeluarkannya kita dari surga ini’ adalah hal yang paling mendasar dalam interaksi dua manusia: kepercayaan.
Negara-negara non-US akhirnya curiga US mencetak dolar lebih dari emas yang mereka simpan. Harga dari kestabilan Bretton Wood 1944 adalah kekuatan mahabesar US: kontrol percetakan ‘uang dunia’. Ketimpangan kekuatan rentan memicu bully. Makin timpang kekuatannya, makin merasa tidak aman orang-orang lemah di sekitar satu orang kuat.
Tanda-tandanya terlihat di tahun 1960-an. Defisit ekspor-impor, beban anggaran perang Vietnam, dan inflasi menyebabkan ekonomi US melemah. Tahun 1965, presiden Perancis mengumumkan sedang menimbang untuk mengganti dolar US dengan emas sebagai cadangan bank sentralnya. Mei 1971, Jerman Barat resmi meninggalkan Perjanjian Bretton Wood – langkah yang langsung membuat ekonomi mereka lebih kuat. Juli 1971, Swiss menukar 50 juta dolar US dengan emas cadangan US. Diikuti Perancis senilai 191 juta dolar US.
Cadangan emas US terus menurun, dan faktanya, saat itu US memang mencetak lebih banyak dolar US daripada emas yang – mereka klaim – punya (sumber: IMF). Jika tren penukaran emas oleh negara-negara lain terus berlanjut dan ketidakpercayaan dunia akan dolar US terus membesar, Perjanjian Bretton Wood akan hangus dengan sendirinya – bersama habisnya cadangan emas US.
Memadamkan kebakaran sebelum makin membesar, presiden US ke-37, Nixon, lalu melarang penukaran 35 dolar US ke 28.3 gr emas. Di tengah krisis kepercayaan ini, usaha-usaha untuk menghidupkan kembali Perjanjian Bretton Woods selalu gagal. Di tahun 1973, negara-negara di dunia resmi meninggalkan Perjanjian Bretton Woods. Indonesia sendiri mulai meninggalkan kunci nilai tukar rupiah dengan dolar US sejak tahun 1978.
Negara-negara kini lebih bebas mengatur suplai uang mereka sendiri.
Pasca era Bretton Woods, nilai tukar uang negara-negara di dunia makin dipengaruhi permintaan-penawaran pasar – termasuk menjadi ‘gorengan’ spekulan nakal yang bisa memicu krisis moneter. Bank-bank sentral sendiri mencoba menstabilkan nilai uang masing-masing dengan kebijakan-kebijakan fiskalnya – ditemani amunisi cadangan emas & uang-uang negara besar (devisa).
Menariknya, dolar US tetap menjadi mata uang perdagangan internasional & cadangan devisa utama bank-bank sentral di seluruh dunia. Meski saat ini mulai ditantang mata uang lain akibat kekuatan ekonomi yang sudah lebih merata dibanding tahun 1980-an dulu.
Apakah jaman Soeharto lebih enak? Pemasukan kaum menengah ke bawah lebih besar? Belum tentu sebenarnya.
Yang pasti, kesenjangan kaya-miskin belum terlalu parah di jaman Soeharto. Dan makin ke sini, terus-menerus makin parah. Kesenjangan ekonomi berujung ke kesenjangan sosial. Masyarakat makin terpolarisasi. Peluang konflik-konflik makin membesar. Mari kita bayangkan sebuah alternate universe Indonesia tahun 1997, di mana tidak ada satupun kaum/suku/ras/penganut-agama yang dianggap unggul sendirian secara ekonomi. Apakah kerusuhan di krisis moneter 98 akan separah yang terjadi di universe kita ini?
Suplai uang yang tidak lagi dipengaruhi oleh sesuatu yang terbatas seperti emas → suplai uang bisa tidak terkontrol → X → kesenjangan ekonomi → kesenjangan sosial → krisis.
Masih ada satu keping puzzle yang hilang. Apa itu X?
Apa Hubungan Tidak Dikuncinya Uang ke Sesuatu yang Terbatas (Seperti Emas) dengan Kesenjangan Ekonomi?
Jawabannya ada dua:
1. Efek Cantillon
Karena uang tidak netral – dia berpihak. Jika suplai uang tiba-tiba berlimpah, dia harus mengalir lewat institusi besar & orang kaya terlebih dahulu, dompet kaum menengah, baru ke tangan orang miskin.
Richard Cantillon-lah yang pertama kali menyadari fenomena tersebut, di tahun 1755. Cantillon – seorang bankir, ekonom, sekaligus filsuf Prancis – membayangkan kalau ditemukannya sebuah tambang emas baru di sebuah kerajaan, kemungkinan malah akan berdampak buruk pada ekonomi kerajaan tersebut.
Makin dekat posisi kita dengan raja, makin besar akses kita ke emas-emas baru tersebut. Masalahnya, sebelum orang-orang miskin mendapatkan cipratan kenaikan pemasukan, harga barang bisa jadi sudah kadung naik. Akibat meningkatnya belanja kaum kaya lalu kaum menengah.
Masalah selanjutnya yang diterawang Cantillon, adalah larinya sejumlah besar emas tersebut ke luar kerajaan. Karena orang-orang kaya kemungkinan besar membelanjakannya ke barang-barang impor konsumtif. Selain mengurangi kekayaan kerajaan, hal ini juga membunuh industri internal kerjaan (jika ada versi yang lebih murahnya di dalam). Di sisi lain, juga makin meningkatkan kecemburuan sosial.
2. Deregulasi & Bertambahnya ‘Mainan’ Orang Kaya
Runtuhnya perjanjian Bretton Woods bisa dianggap sebagai sebuah deregulasi – lebih tepatnya deregulasi pencetakan uang. Guru kencing berdiri, anak murid kencing berlari. Hulu berubah, hilirpun ikut berubah.
Perlu diketahui, pencetakan uang bukan hanya monopoli bank sentral. Bank swasta juga bisa ‘mencetak uang’. Caranya lewat menerbitkan pinjaman baru. Hulu (runtuhnya Bretton Woods) & hilir (deregulasi produk finansial) sama-sama berujung ke suplai uang yang membengkak drastis.
Mulai tahun 1970-an, secara perlahan, bank-bank di Amerika mulai dilonggarkan untuk memberikan pinjaman & mengambil resiko lebih tinggi. Hal serupa juga terjadi di Indonesia mulai tahun 80-an. Efek jangka pendeknya memang pertumbuhan ekonomi yang pesat: modal usaha mudah didapat, usaha baru bermunculan, pengembang properti terbantu KPR yang mudah, harga saham mudah melesat.
Sayangnya, semuanya adalah mainan-mainan orang kaya. Orang kaya yang cukup cerdik bisa memanfaatkan kondisi ini untuk menjadi lebih kaya puluhan kali lipat (tanpa keringat setetespun!). Sementara orang miskin yang sangat cerdik sekalipun belum tentu punya akses ke KPR — apalagi pasar saham.
Efek jangka panjang deregulasi & pertumbuhan ekonomi yang pesat ini adalah krisis – karena makin banyak pinjaman/usaha yang beresiko. Sebagaimana yang kita tahu di krisis moneter 97-98 di Indonesia, orang miskin-lah yang paling menderita. Di sisi lain, orang-orang kaya umumnya punya penasehat finansial, sehingga bisa mengatur ulang investasi mereka di awal-awal krisis.
Yang lebih menyedihkan lagi terkait krisis, adalah kebiasaan pemerintah-pemerintah dunia untuk mencetak uang lebih banyak lagi, demi menyelamatkan bank-bank yang bangkrut – akibat terlalu berani mengambil resiko investasi. Tujuan pemerintah mulia sebenarnya: untuk memadamkan api krisis perbankan sebelum meluas. Namun caranya lagi-lagi dengan mencetak uang baru, atau menggunakan uang pajak kita. Yang pasti, keduanya membantu peningkatan inflasi (selambat-lambatnya di jangka panjang), kesenjangan sosial (di jangka pendek), & peluang terjadinya krisis (selambat-lambatnya di jangka panjang).
Lengkap sudah puzzle kita:
Suplai uang yang tidak lagi dipengaruhi oleh sesuatu yang terbatas seperti emas → suplai uang bisa tidak terkontrol → efek Cantillon & deregulasi → kesenjangan ekonomi → kesenjangan sosial → krisis.
Masalah Mendasar dari Bretton Woods
Kita sudah merasakan langsung manfaat dari perjanjian Bretton Woods, dan dampak buruk dari ketiadaannya.
Masalah Bretton Woods itu cuma satu: kepercayaan. Bagaimana kita bisa yakin cadangan emas di US sebesar yang diklaim? US — atau institusi apapun di posisi serupa — bisa saja berbohong tentang cadangan emasnya.
Jika di tahun 1944 ada teknologi, yang bisa mengaudit jumlah emas yang dimiliki oleh siapapun di dunia, Bretton Woods tidak akan runtuh. Pemasukan orang kaya, menengah, dan miskin akan tumbuh beriringan. Kesenjangan sosial tidak akan melebar.
Di tahun 2009 – setelah krisis finansial besar di tahun 2008 – teknologi tersebut jadi kenyataan. Bukan teknologi untuk ‘mengaudit emas’, melainkan untuk ‘menciptakan semacam emas baru yang saldonya bisa diaudit siapapun’. Sehingga penerbit-penerbit uang (bank-bank sentral di seluruh dunia) bisa ditekan rakyatnya jika menerbitkan uang lebih dari besar cadangan yang sepakati.
NB: 'disepakati' di atas berarti tidak harus selalu 100% semua uang yang beredar dilindungi oleh cadangan devisa 'emas baru'. Bagi saya, mencetak uang negara melebihi cadangan devisa untuk jangka waktu tertentu (selama sesuai kesepakatan) adalah sebuah fitur. Karena faktanya, ada kondisi-kondisi khusus seperti bencana alam, pandemi, perang, dsb. Yang penting, karena fitur audit publiknya, bisa segera dilanjutkan dengan pengurangan suplai uang yang beredar — ke besaran ideal yang disepakati. Hal ini sangat dimungkinkan, apalagi jika uang negaranya digital & juga menggunakan fitur transparansi seperti si 'emas baru' ini.
Kembali ke laptop. Apa nama 'emas baru' yang diciptakan di tahun 2009 ini?
Bitcoin
Bitcoin adalah sejenis uang digital yang tidak bertuan, jumlahnya terbatas, dan laju/kesulitan ‘percetakan’nya sudah dikunci oleh algoritma agar terus makin langka. Karena tidak bertuan, tidak ada yang bisa menghentikan/memusnahkan Bitcoin – sebagaimana juga emas. Namun, ini yang paling penting & yang bahkan tidak bisa ditandingi emas: tidak ada manusia yang bisa mengatur suplai & laju penambangan Bitcoin. Saat ini sampai 2024 nanti, sudah pasti akan ada 6,25 Bitcoin baru setiap 10 menit; di 2024-2028 3,125 Bitcoin per 10 menit; di 2028-2032 1,5625 Bitcoin; dan seterusnya. Ingat, kepastian suplai ini tidak terpengaruh jumlah penambang Bitcoin. 100% bebas intervensi manusia. Tragedi US yang mencetak dolar lebih banyak dari cadangan emasnya tidak akan terjadi.
Bitcoin itu didesain lambat, cuma +/- 4 transaksi per-detik. Ini adalah rancangan yang menarik. Meskipun sama-sama berjudul ‘uang’, kegunaan utama Bitcoin adalah untuk menabung/investasi atau transaksi raksasa, bukan untuk menggantikan rupiah di transaksi sehari-hari. Artinya, sebagaimana emas, Bitcoin dan uang-uang terbitan bank sentral bisa hidup berdampingan.
Menurut estimasi CIA, jika seluruh uang negara di dunia ditotal, nilainya bisa setara 80,000,000,000,000 (delapan puluh juta juta) dolar US. Karena Bitcoin memiliki jumlah maksimum, timbul pertanyaan, apakah Bitcoin sanggup untuk menggantikan emas seperti di era Bretton Woods? Perlu diketahui, jumlah uang yang beredar harus terus bisa meningkat seiring meningkatnya produksi barang/jasa umat manusia. Jawabannya bisa. Hanya ada maksimum 21 juta Bitcoin. Namun, satu Bitcoin masih bisa dipecah menjadi 100 juta Satoshi. 2,100 juta juta Satoshi dibagi 80 juta juta dolar US, hasilnya 26,25. Artinya, bahkan sampai nanti perputaran ekonomi di dunia ini membesar 26 kali lipat dari sekarang, Bitcoin masih sanggup dijadikan alat tukar.
Namun tentu, tidak mungkin hanya ada 4 transaksi per-detik di dunia ini. Bitcoin jelas bukan alat tukar. Tujuan utama Bitcoin adalah menjadi cadangan devisa, bagi si penerbit alat tukar. Pemerintah tidak seharusnya menentang Bitcoin – jika peduli dengan keadilan sosial bagi rakyatnya. Dengan logika yang sama, pemerintah justru perlu menentang uang-uang kripto lain yang memang didesain sebagai alat tukar sehari-hari.
Singkatnya, Bitcoin bisa dipandang sebagai emas plus-plus. Plus-plus karena tambahan tiga fitur berikut: transfer online, audit transaksi/saldo publik, & kemerdekaan suplainya dari pengaruh manusia.
Jika penasaran, silahkan pelajari detail teknisnya:
- Kalau tak bertuan, gimana caranya bikin rekeningnya? Kan artinya ga bisa dateng ke kantor cabang tuh (in progress).
- Cara transfer & terima Bitcoin-nya gimana ya? (in progress)
- Kemunculan Bitcoin baru-nya seperti apa? Bagaimana bisa mirip penambangan emas? (in progress)
- Cara kerja di belakang layarnya seperti apa sih? Kok bisa mencatat transaksi-transaksi tanpa takut dimanipulasi hacker, padahal ga punya satu tuan yang mengatur? (in progress)
Sudah paham apa itu Bitcoin? Langsung percaya hal seperti Bitcoin punya masa depan? Silahkan pelajari cara membeli & menabung Bitcoin (in progress).
Jika belum percaya, izinkan saya memberikan beberapa fakta & opini berikut:
- Menguntungkan di Jangka Pendek – Apalagi Jangka Panjang
- Jika mau menunggu selambat-lambatnya 4 tahun (siklus penambangan Bitcoin), tidak pernah ada hari rugi untuk membeli Bitcoin. (in progress)
- Sejak kelahirannya 12 tahun lalu, harga selalu naik minimal 100x lipat dari harga terendah di siklus 4 tahunan terakhir. (in progress)
- Tidak seperti properti, investasi Bitcoin bisa mudah di-rupiah-kan kapanpun. (in progress)
- Berpeluang Memperbaiki Hidup Anak-Cucu Kita
- Bitcoin itu hanya meneruskan cita-cita luhur negara-negara dunia di Perjanjian Bretton Wood tahun 1944 lho. <– yang dijelaskan di awal tulisan ini!
- Inflasi adalah pajak yang diambil secara paksa dari kantong-kantong rakyat jelata. Bitcoin punya peluang untuk menghilangkannya. (in progress)
- Masih ingat krisis moneter 98? Bitcoin bisa meminimalisir peluang & dampak buruk krisis keuangan. Berikut caranya (in progress)
Sudah yakin dengan fakta-fakta kebaikan Bitcoin di atas? Juga opini-opini potensi revolusioner Bitcoin di masa depan?
Sekarang, agar berimbang, mari kita tinjau juga ‘keburukan-keburukan’ Bitcoin. Jangan-jangan ada benarnya juga?
- Bitcoin haram dalam Islam (in progress)
- Bitcoin adalah uangnya para kriminal/teroris (in progress)
- Bitcoin adalah Skema Ponzi (in progress)
- Bitcoin itu konspirasi Wahyudi/Remason (in progress)
- Pemerintah akan melarang Bitcoin (in progress)
- Rupiah/Dollar/Euro digital akan menurunkan harga Bitcoin (in progress)
- Bitcoin sumber polusi (in progress)
- Bitcoin dikuasai Cina (in progress)
- Bitcoin akan dikalahkan uang kripto non-pemerintah lainnya (in progress)
Setelah memahami Bitcoin (barangnya, positifnya, & negatifnya), kita akan sadari, cuma tiga hal yang bisa menunda pertumbuhannya atau membuat permintaan terhadap Bitcoin tiba-tiba berkurang & bahkan hilang:
- Internet / barang elektronik tiba-tiba lumpuh.
- PBB / Bank Dunia / IMF tiba-tiba membuat Bitcoin tandingan yang memiliki SEMUA keunggulan Bitcoin – tentu kecuali ke-tidak-bertuanan-nya. Lalu mengajak bank sentral diseluruh dunia untuk menjadikannya sebagai cadangan devisa utama.
- Sama seperti poin nomor 2, tapi ‘tuan’-nya bukan badan pemerintahan level dunia, melainkan perusahaan (atau sekumpulan perusahaan) selevel Google, Amazon, atau Facebook.
Yang pertama adalah bencana alam level tata surya. Kemungkinan terjadinya amat sangat kecil.
Yang kedua & ketiga peluangnya lebih besar, tapi tidak terjadi dalam semalam & masih bisa dipantau melalui berita. Ingat, keunggulan utama Bitcoin adalah ke-tidak-bertuanan-nya. Dibutuhkan waktu lama agar trust pada kompetitor-Bitcoin-yang-bertuan ini bisa tumbuh. Jadi, meskipun ada resiko harga Bitcoin jatuh setelah launching-nya mereka, mustahil terjadi dalam satu malam (bangun tidur lalu tiba-tiba harga Bitcoin kita jadi nol dan tidak naik lagi setelahnya). Sebagai penabung/investor Bitcoin, masih ada waktu untuk menjual sebagian Bitcoin lalu membeli ‘Bitcoin-versi-institusi’ tersebut.
Jika akhirnya ‘Bitcoin-versi-institusi’ inilah yang populer, saya yakin Satoshi Nakamoto (pencipta Bitcoin) tidak akan sedih. Karena tetap telah memicu tujuan akhir yang luhur: terciptanya keadilan sosial bagi seluruh rakyat dunia.
–
Menabung Bitcoin memang pilihan yang cerdas. Tapi jangan pula cinta buta.
Bitcoin hanyalah salah satu alat, untuk keadilan sosial bagi seluruh rakyat dunia. Kebetulan sampai saat ini, Bitcoin adalah alat yang terbaik. Tetap baca berita-berita terbaru seputar Bitcoin, untuk memantau perkembangan terkait ‘Bitcoin-versi-institusi’ -- jika ada.
Apapun itu, teruslah menabung Bitcoin & mengajak orang lain menabung Bitcoin — meski sedikit. Makin populer Bitcoin → makin besar peluang dia (atau yang serupa dengan dia) jadi cadangan devisa → makin mungkin kita bisa kembali ke kontrol suplai uang yang bahkan lebih disiplin dari Bretton Woods 1944 (akibat fitur transparansi saldo & transaksinya) → makin adil pertumbuhan ekonomi di semua kalangan → makin kecil kesenjangan sosial
→ makin nyaman & terjamin hidup anak-cucu kita kelak.
Sudah yakin dengan Bitcoin?
Bagaimana cara menabung Bitcoin di Indonesia? (in progress)